Minggu pagi, tepatnya tanggal 2 Agustus pukul 10.00 saat aku berusaha untuk membangunkan diriku yang masih menikmati semilir udara dingin yang memasuki kamar tidurku. Rupanya tak berapa lama setelah aku berhasil membangunkan diri, perutku terasa lapar, bergegas ku ambil kunci motor dan berganti pakaian untuk pergi mencari makan. Di luar kost nampak orang beramai-ramai, pikirku mungkin hanya kerja bakti biasa. Tapi setelah berjalan sambil mengamati keadaan sekitar jalan, nampak meriah sekali. Umbul-umbul, hiasan dari gelas bekas air minum kemasan yang di cat, hiasan bendera merah putih sampai gapura, akhirnya aku baru teringat sebentar lagi 17’an. Melihat antusias warga yang begitu bersemangat bekerja, aku tertawa dalam hati membandingkan diriku yang baru bangun jam 10 pagi dan langsung mencari makan karena lapar. Tradisi itu belum berubah, tradisi menyambut hari ulang tahun Negara ini mungkin saja sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Kemeriahan lomba dan bermacam-macam acara yang sudah dipersiapkan seolah mendatangkan euforia tersendiri bagi warga Indonesia. Seolah mereka ingin membuktikan “kemerdekaan”, terutama merdeka dari rasa takut. Masih terekam di ingatan peristiwa peledakan bom di Hotel J.W Marriot dan Ritz-Carlton sampai dengan hari ini, begitu juga dengan media yang terus-menerus memberitakan perkembangan pelaku bom bunuh diri. Indonesia tentu berduka tapi tidak terkulai, spirit perjuangan pahlawan yang mengantar bangsa ini menuju kemerdekaan yang utuh tanpa penjajahan seolah menyebar ke dalam lubuk seluruh masyarakat, sebab mereka tak ingin berlama-lama terjajah dari ketakutan dan pesimisme, bangsa Indonesia cepat berbenah diri. Ahh..aku jadi ingin pulang ke rumah, melihat bagaimana persiapan 17’an di lingkungan rumahku. Melihat tawa kegembiraan anak-anak yang mengikuti perlombaan, sebuah bentuk ekspresi sederhana betapa mereka begitu merdeka. Kibaran bendera merah putih yang menjulang di atas sana tentu menimbulkan rasa nasionalis tersendiri bagi diriku. Hiasan-hiasan bambu runcing sebagai simbolisasi betapa beraninya pahlawan kita yang tak gentar menghadapi musuh, setidaknya mereka tidak mati dengan “bom-bom konyol” untuk mencapai tujuannya. Indonesia memang merdeka sejak tahun 1945, namun seiring berjalannya waktu tak pelak ditemui upaya-upaya yang mengancam kemerdekaan bangsa ini; korupsi, kekerasan antar kelompok dan pelanggaran HAM mengancam persatuan dan kesatuan negara ini. Tentunya sebagai anak bangsa, aku tidak ingin berdiam diri melihat bangsa ini remuk redam, burung garudaku harus tetap mengepakkan sayapnya. Waktu demi waktu terus berganti, satu demi satu pejuangku mati. Tahun demi tahun generasi terus berganti tapi tetap Indonesiaku takkan pernah terganti. Selamat ulang tahun Indonesiaku..

Iklan