Malam ini pukul 20.55 WIB, masih dalam kondisi ¾ lelah dan ¼ bahagia akan sebuah pencarian makna, cukup memaksa saya untuk mengurai sejumlah cerita tentang apa yang terjadi. Dimulai dari pelatihan yang diadakan oleh calon kampus baru saya, MBA-ITB dimana dalam pengamatan pertama saya menemukan aura perbedaan yang sangat kontras dengan yang dirasakan pada saat masa orientasi kuliah sarjana 5 tahun lalu. Eksklusif, nampak terburu-buru, dan terkesan materialistis begitulah sejumlah orang yang saya temui. Namun semuanya itu lebur seketika pada malam harinya, ketika satu sama lain saling mengenalkan identitas mereka, dimulai dengan satu kalimat ampuh ketika mendengar nama almamater dan tempat tinggal sama, “kamu kenal dengan si A tidak?” dan saya jamin dari sana pembicaraan pasti bisa berlanjut sekitar 5-8 menit. Saya terkesan dengan sesi business mission dimana kami dalam satu kelompok diterjunkan di tengah kota tanpa dibekali apapun (kata sang trainer “dalam keadaan bangkrut”) dan mesti mencari dana min.50ribu untuk kembali ke penginapan dan sekaligus mencari sosok inspiratif (orang dengan profesi apapun, yang sekiranya dalam sosok mereka punya sifat kerja keras dan ketekunan). Hal pertama yang saya dapat dari hal ini adalah bagaimana kita mencari seorang yang tekun,pantang menyerah, kreatif dan tentunya kejujuran mulai membuka pemahaman saya akan kata bisnis yang hanya sekedar mencari keuntungan. Bisnis adalah sebuah penguatan karakter, dimana kita juga harus melihat sesama dan munculnya peluang. Bisnis bukan hanya digambarkan dalam sebuah grafik dan indeks bursa saham, akan tetapi bisnis adalah sebuah cara Tuhan untuk menggugah kita agar semakin percaya diri akan setiap kemampuan yang telah Ia berikan.Ahh terkesan terlalu religius, tapi inilah yang saya maknai. Terutama ketika melihat sedikit cuplikan film Facing the Giant dimana sang pelatih terus menekankan agar sang pemain tidak mensia-siakan kemampuan yang Ia telah berikan dengan ketidakpercayaan diri. Cara untuk mengetahui kita mampu melakukan hal yang maksimal adalah; “tutup mata” dan lakukan. Dan sejak hari ini, saya tidak akan kecewa jika cita-cita menjadi seorang CEO yang akan memimpin perusahaan bonafide tidak tercapai, toh jikalau Ia mengijinkan sebuah ladang akan disediakan. Tak mengapa semua orang mencibir, bertanya heran dan kerapkali berkata, “aneh!”. Karena setiap kali saya dipertemukan dengan hal demikian, saya akan selalu meminum obat “bersyukur, karena mungkin banyak orang tak seberuntung saya”.