Senin, Agu 30 2010 

Sabtu(28/8), lagi-lagi aku membulatkan tekad untuk menemukan organisasi apa yang bisa ku jadikan “ladang”      pengabdianku di kota Bandung ini. Terkadang aku merasa, walaupun jadwal kuliah dan tugas yang sudah menumpuk, tetap saja ada sebuah perasaan ingin sesuatu untuk dilakukan. Menempuh studi S2 dg jurusan yang berbeda di S1, menambah alasan mengapa aku ingin berorganisasi dan terlibat pembicaraan apa saja mengenai negara ini. Sore ini, aku mencoba untuk datang kembali ke organisasi tersebut, “main-main” istilah yang layak untuk menggambarkan keadaan ini, belum ada niatan serius dan hanya ingin sekedar melihat-lihat. Bersyukur bahwa hanya dengan perbincangan kecil dengan salah satu pengurus, aku mendapatkan banyak hal mengenai ideologi dan kejadian-kejadian di Kota Bandung ini-aku teringat pesan Yeremia untuk selalu menyejahterakan kota dimana kita tinggal- sampai tiba saat ia (pengurus) mempertanyakan mengenai ideologi yang telah pudar oleh sang pelaku, ideologi yang seolah ditinggalkan atau mungkin terkikis karena sebuah kenikmatan.

Kemudian, berlanjut saat ia menanyakan dimana aku bertempat tinggal, setelah aku menjawab, “saya tinggal di rumah pribadi ‘pak, rumah orang tua tepatnya” entah mengapa tawa nyinyir sedikit meluncur di wajahnya seolah ia menebak bahwa untuk ukuran mahasiswa S2 dengan orang tua yang masih menetap di Cilacap, aku adalah orang yang mampu(baca:kaya).

Lalu lanjut ia bertanya, “setelah selesai kuliah, apa mau kembali ke tempat asal (Cilacap)?” dan spontan aku menjawab, “mungkin tidak ‘pak, ladang pekerjaan sangat sulit di dapat untuk kota kecil seperti Cilacap. Seolah membangkitkan rasa penasarannya akan kepribadianku, ia sedikit mengkritik, “tidak ada ladang pekerjaan atau memang terlalu memilih?!” dan aku hanya bisa menjelaskan keadaan lapangan pekerjaan disana sambil sedikit berkelakar bahwa kelak aku akan pulang membangun tanah kelahiraanku.

Sekilas memang tak ada yang salah dengan acara tanya-jawab yang bisa juga dikatakan proses interview tidak langsung ini. Tapi dalam pikirku, apa sejauh ini ia mencoba sejauh mana ideologi yang aku punya?. Jika apa yang ku pikirkan benar, betapa kuatnya mereka menanamkan ideologi sampai hampir tak ada ruang bagi orang-orang yang hanya menerapkan ideologi setengah-setengah(hidup mapan, begitu pikirku). Dan jika pikiranku benar, betapa naifnya mereka karena sebenarnya dunia ini luas dan dinamis, penuh peluang untuk sebuah pencapaian. Ahh sudahlah, terkadang aku hanya menyimpan tawa dalam hati melihat panggung politik yang penuh tipu-daya, mereka boleh saja mempunyai ideologi yang tegas, pembawaan berapi-api dan pengetahuan sejarah yang kuat. Tapi bagi saya tetap, apalah arti ideologi jika nyata dalam pelaksanaan tidak sesuai dengan kehendak “sang pemberi dan penginspirasi sebenarnya dari Ideologi” itu sendiri. Dengan apa yang aku alami hari ini, aku tidak ingin menyatakan bahwa aku adalah seorang oportunis, minus prinsip atau ideologi. Tentu aku tidak ingin “setelanjang” itu sebagai manusia, ibarat sang pengelana dengan sebuah misi, tentu ia telah mempersiapkan hati dan pikiran dalam mengemban tugasnya, ia takkan berbalik arah walaupun terkadang ia berjalan serong, jauh dari tujuan semula

Iklan

Sekali lagi untuk rakyat.. Kamis, Agu 12 2010 

Sebenarnya saat ini saya bingung ingin menulis tentang apa, di satu sisi saya mengalami hari yang sedikit sibuk namun tetap saja ada sedikit kebosanan di dalamnya. Di sisi lain, sepulangnya dari kampus menuju rumah saya melihat sekelompok orang tengah bersiap untuk menghadapi eksekusi penggusuran tanah(yang saya perhatikan selama 6 tahun ini tidak pernah dipermasalahkan),hal ini tidak menaruh banyak perhatian masyarakat, karena mungkin bagi mereka apalah arti 2-3 kios pulsa dan warung makan yang digusur,apatis?Hmm..bisa saja. Suatu ketika saya tersadar saat sebuah tayangan stasiun televisi swasta mengadakan interaktif dengan pemirsa di rumah,yang kurang lebihnya si penelepon diberi kebebasan untuk memilih topik berita dan memberi komentar. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari program tersebut, namun jika diperhatikan hari demi hari pilihan topik berita yang akan dipilih oleh pemirsa interaktif sedang menyiratkan sesuatu. Tayangan mengenai manusia gerobak (tinggal di dalam gerobak karena kemiskinan), penting-tidaknya patroli pengawalan pejabat atau mungkin kisah tentang lakon rakyat di gedung senayan (sekali lagi tentang hal negatif). Saya membaca ini sebuah misi pribadi dari sang pemain belakang layar untuk merebut simpati rakyat, dengan kondisi buruk yang terus-menerus dipertontonkan kemudian dalam 1-2 tahun ke depan dia akan muncul di depan panggung untuk memberikan solusi dan retorika majemuk yang terlihat mencerahkan. Sekali lagi rakyat dibuat bingung, dan sekali lagi rakyat tidak tahu harus mempercayai siapa. Peran media yang begitu besar dalam menyebarkan informasi telah membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pola pikir masyarakat. Dalam tulisan ini, saya tidak ingin memberikan segmentasi (Kaya,menengah atau miskin) atau pengertian definitif mengenai siapa itu rakyat. Saya adalah bagian dari rakyat, seseorang yang merasa perlu menjalani hidup ini dengan lebih independen dan tidak terpengaruh dengan pola pikir yang sudah terbentuk karena media/kritikan-kritikan kosong. Ingatan saya kembali pada kejadian di Sukoharjo, saat menjalani sebuah tugas dari LSM untuk mengadakan survey masyarakat. Mereka yang bermatapencaharian sebagai petani dan notabene hampir tidak pernah membaca Koran, berusaha menjalani hidup mereka dengan sebuah keyakinan (dan sekali lagi bukan karena sebuah “janji”). Sesekali mengeluh dan gelisah, namun itu tidak membuat mereka untuk terus-menerus tinggal dalam sumpah serapah kepada penguasa negeri ini. Dan akhirnya saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia merindukan sikap akan sebuah keyakinan dan kerja keras. Kami (saya) memahami bahwa ada bagian dari kehidupan bernegara ini yang merupakan bagian kami;yaitu hidup dengan sebuah keyakinan. Dan yang merupakan bagian yang menjadi kewajiban dari pemerintah negeri ini adalah memperkuat keyakinan kami(melindungi,mengayomi).