Janji itu Tegas Kamis, Okt 28 2010 

Kalau ada beberapa orang yang bilang ketegasan adalah bentuk pendirian sikap kita akan sesuatu hal baik yang disukai maupun tidak disukai,mungkin pernyataan ini benar 100%, tapi jikalau sebuah penyampaian ketegasan ini terkadang terhambat oleh usia maupun status orang yang kita hadapi, mungkin tidak sepenuhnya benar. Aku mempunyai seorang pembantu harian(bisa dibilang buruh cuci) yang datang setiap 2 kali seminggu,dengan hari kedatangan yang lebih banyak dikompromikan. Namanya Eti,aku memanggilnya Mbak Eti, dia sudah berkeluarga (aku menebak dia menikah di usia muda). Sejauh ini aku menganggapnya sebagai rekan, tak pernah terbersit di pikiran ku berlaku sebagai tuan rumah yang banyak perintah ini dan itu. Mungkin karena aku seorang cowok yang tidak banyak memperhatikan aspek estetika rumah, cara menyetrika, menyapu, dsb..yang pasti rumah bersih dan semua pakaian kotor tercuci dengan baik, cukup bagiku. Namun, ada hal yang menjengkelkan dari mbak Eti, kerapkali ia membatalkan secara sepihak jadwal hari dimana ia harus datang dengan alasan ada kerjaan cucian di rumah lain. Oke, secara sederhana tak ada istilah kontrak kerja yang begitu kaku mengatur hak dan kewajiban para pihak, tapi sekali lagi disini kita berbicara bagaimana menepati janji lisan yang sudah disebutkan dan disepakati. Berbicara upah, aku berusaha menyesuaikan selayaknya upah buruh cuci harian.Aku hanya menduga,seringkali ia mengabaikan jadwal kerja di tempatku dan lebih memilih rumah dengan keluarga yang cukup banyak,namun ia banyak mendapatkan sesuatu dari sana (makan siang,ato sembako) dan aku berusaha mengerti sekaligus memahami bagaimana ia harus mempunyai prioritas kerja dalam daftarnya dengan hasil yang lebih besar manfaatnya bagi kelangsungan 4 orang anaknya,walaupun harus mengabaikan sebuah perjanjian. Tapi dirasa-rasa semakin lama,aku merasa ada sesuatu yang salah dalam hal ini dan itu harus diperbaiki.Ya..ketegasan, seringkali aku terus berkompromi,memaafkan segala bentuk pembatalan janji dari mbak Eti karena dalam hati terus berkata, “ah,mungkin dia mempunyai hutang budi di Rumah Ibu atau mungkin tahu karena aku dan kakakku adalah seorang mahasiswa, jadi tidak akan terlalu banyak komplain layaknya ibu rumah tangga yang selalu cerewet melihat rumah dalam keadaan berantakan” dan hari ini, mbak Eti melakukannya lagi melalui sms, aku mencoba memikirkan kata dimana dari situ aku menyampaikan ketidak-setujuanku terhadap ia selama ini, dan mencoba memberikan arahan bagaimana ia seharusnya.Well,kata sudah terucap, lagi-lagi aku mengembalikan makna kata “janji” kepadanya, janji kalau hari sabtu akan datang, dan tidak akan ada kerjaan lain. Dia tak membalas, ketegasan yang aku berusaha sampaikan bukanlah ketegasan dengan kesewenangan karena aku yang memberikan upah ke dia, aku majikan dan dia bawahan, sekali lagi tidak. Ini semata agar ia mengerti bahwa sikap yang salah,harus dibenarkan. Kompromi yang selama ini dilakukan jangan diartikan sebagai pengabaian kewajiban.Semoga esok ia mau mengerti, atau malahan ia lebih memilih pergi dan tidak bekerja lagi di rumahku. Entahlah..

Iklan

Bertanya seperti Yunus Rabu, Okt 20 2010 

Pagi ini aku mengutip beberapa hal dari renungan pagi yang ku baca, judulnya “bagaimana menjadi berkat” (di ambil dari kitab yunus 4:1-11).Di kisahkan dalam ayat itu tentang kekesalan Yunus dan apa yang dilakukan Allah untuk menghibur Yunus. Yunus yang kesal dalam menghadapi situasi di sekitarnya bertanya kepada Tuhan (dalam penerjemahan aku) “mengapa engkau mengampuni bangsa/kota niniwe?”. Yunus  bertanya seperti ini kepada Tuhan karena ia tahu keadaan seperti apa kota niniwe itu saat ia mengabarkan pengampunan dari Tuhan. Satu hal yang saya tarik adalah, terkadang Tuhan menempatkan kita (tentu saja sesuai jalan-Nya) dalam kondisi ataupun situasi yang tak menyenangkan. Kesulitan beradaptasi, bertemu dengan orang-orang yang cenderung menjatuhkan kita,dan masih banyak lagi.Sehingga tak jarang  kita bertanya, “mengapa harus di sini? di tempat dengan situasi seperti ini?”. Aku sendiri pernah bertanya demikian, setelah menjalani kuliah MBA ini, sempat tercetus penyesalan mengapa dulu aku memohon kepada-Mu untuk kuliah di sini. Dalam situasi ini aku berlaku seperti Yunus, kesal dengan segala keadaan yang tak sesuai harapan, tapi sebenarnya Tuhan lah yang berkehendak untuk sesuatu yang telah ditempatkan-Nya. Menyadari bahwa segala kasih dan penghiburan tidak akan pernah jauh dari setiap umat-Nya, agar satu hal yang nyata dapat terwujud, yaitu cerita bagaimana Tuhan membentuk kelemahan setiap anak-anakNya menjadi kekuatan tersendiri

Yakin Tuhan beri kemenangan besar Selasa, Okt 12 2010 

Oh Tuhan sejenak aku ingin mengeluarkan jerit-teriakku mengungkapkan kepenatan ini. Tugas debat, tugas kuliah yang datang silih berganti, hobi yang terbengkalai membuatku bertanya, “apakah aku telah kehilangan “kemanusiaanku?”. Aku yakin esok adalah hari yang berat, kuliah dan setelah itu menjalani debat yang sama sekali belum pernah kujalani(tapi aku berusaha membayangkan debat ini sebagai kejuaraan peradilan semu).

Tuhan..malam ini ku rendahkan hatiku, menepis segala angan yang nantinya hanya menjadi mimpi belaka. Saat ku tahu esok hari adalah hari kekalahanku,  ku tetap ingin meyakini..Tuhan beri kemenangan besar

Budaya Kekerasan: Ketika fanatisme menjadi sebuah kesukaan Selasa, Okt 5 2010 

Wihh lama tidak isi materi blog karena pikiran penuh sesak akan materi kuliah.:).Terkesan belagu yak,tapi memang benar dirasa-rasa kuliah s2 itu berat.

Okay,mungkin kita semua sudah tahu akan tragedi kekerasan 1 minggu belakangan yang terus saja tersiar melalui stasiun televisi dan media massa. Kerusuhan Tarakan, ampera, Menteng(mungkin luput dari perhatian tp berpotensi konflik SARA) sampai yang terakhir Pembakaran Masjid Ahmadiyah di Cisampea,Bogor.  Sebenarnya jika mau dirunut/ditelusuri akar masalah ini, semuanya selalu bermuara dari satu kata, “Fanatisme”/Fanatik yang dalam pengertian pribadi saya adalah sebuah sikap berlebih-lebihan akan suatu benda,ajaran atau kelompok bahkan ia cenderung tidak bisa menerima apabila sesuatu yang ia agung-agungkan ini dilecehkan atau dikurangi maknanya oleh orang lain, sakleg lah kalau orang jawa bilang. Bisa dibilang masalah di atas tidak akan muncul ‘kok kalau saja ada semacam pemikiran rasional yang dapat mementahkan fanatisme. Insiden Tarakan, misalnya; jika saja setiap suku tidak terbakar rasa amarahnya dan langsung berteriak lantang “ini demi kehormatan kelompok kita”, tentulah kerusuhan ini tidak akan terjadi. Fanatisme yang cenderung bersifat ekslusif secara perlahan juga dapat menyulut emosi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dirasa mempunyai tujuan yang sama. Pembakaran Masjid Ahmadiyah di Cisampea terjadi karena hal ini. Konon kabarnya salah satu warga yang selama ini menganggu jemaah Ahmadiyah(thejakartaglobe,5/10) ditusuk oleh salah Jemaah Ahmadiyah karena tidak tahan dengan perlakuan menganggu yang terus-menerus menghampiri. Tak terima dengan insiden tersebut korban datang dan menggerakkan massa untuk menyerang dan membakar masjid, pertanyaan yang muncul dalam benak saya “kok ya orang yang diajak untuk membakar masjid g punya otak untuk sejenak berpikir untuk apa dia melakukan ini?(*geram,jengkel). Hampir selalu fanatisme bagi orang yang menganutnya dirasa sebagai sebuah kesukaan untuk dilakukan/dialami, apalagi ketika  mengetahui bahwa orang lain mempunyai paham yang sama. Kemudian penglihatan saya tertuju kepada bentuk fanatisme lain, kali ini boleh dibilang major in fun with fanatism (*mentang2 baru belajar P factor dari kul Marketing.Hehe) jadi fanatisme yang lebih bersifat meramaikan namun tersimpan potensi konflik di dalamnya. Suporter viking namanya (sebutan fans Persib), setiap kali membuat saya tercengang melihat kata “wasit goblog!” atau “the jak A*****!’ dalam atribut kaos dan stiker yang melekat di kendaraan warga Bandung, benarkah ini fanatisme yang dapat tersalurkan dengan baik?saya kira tidak. Inilah fenomena yang semestinya kita gugat (paling tidak saya yg pertama kali menggugat). Pernahkah terpikir ketika suatu waktu kita menonton suatu pertandingan, dan kita mendengar suporter meneriakan kata “wasit Goblog” kita serasa dibawa ke dalam suasana pertandingan gulat atau sesuatu acara yang cenderung berujung ke anarkis daripada suasana menonton keindahan permainan sepak bola?. Setidaknya nih ya, kita boleh ‘kok bersikap seperti ‘hooligans seperti di luar negeri sana (hooligans rasional ada kan!?) tapi dengan syarat, lihat dulu kondisi ekonomi kita(yang tak mungkin setiap hari kita menonton pertandingan bola sambil menenteng sebotol bir) dan lihat pula kondisi kancah persepakbolaan kita(yang berharap sepakbola menjadi sebuah bisnis dengan pengelolaan yang baik.Termasuk di dalamnya;gaji pemain yang tidak pernah tertunda ;p).

Pada akhirnya fanatisme harus dilihat dari 2 (dua) hal; 1.Apakah ia nantinya akan berefek samping merugikan orang lain dan 2. Apakah ia masih menyisakan ruang pemikiran rasional dan toleransi bagi pemikiran baru. Disinilah pada akhirnya fanatisme ditempatkan dalam sudut seimbang, sebuah kesukaan yang tidak membabi-buta.