Kalau ada beberapa orang yang bilang ketegasan adalah bentuk pendirian sikap kita akan sesuatu hal baik yang disukai maupun tidak disukai,mungkin pernyataan ini benar 100%, tapi jikalau sebuah penyampaian ketegasan ini terkadang terhambat oleh usia maupun status orang yang kita hadapi, mungkin tidak sepenuhnya benar. Aku mempunyai seorang pembantu harian(bisa dibilang buruh cuci) yang datang setiap 2 kali seminggu,dengan hari kedatangan yang lebih banyak dikompromikan. Namanya Eti,aku memanggilnya Mbak Eti, dia sudah berkeluarga (aku menebak dia menikah di usia muda). Sejauh ini aku menganggapnya sebagai rekan, tak pernah terbersit di pikiran ku berlaku sebagai tuan rumah yang banyak perintah ini dan itu. Mungkin karena aku seorang cowok yang tidak banyak memperhatikan aspek estetika rumah, cara menyetrika, menyapu, dsb..yang pasti rumah bersih dan semua pakaian kotor tercuci dengan baik, cukup bagiku. Namun, ada hal yang menjengkelkan dari mbak Eti, kerapkali ia membatalkan secara sepihak jadwal hari dimana ia harus datang dengan alasan ada kerjaan cucian di rumah lain. Oke, secara sederhana tak ada istilah kontrak kerja yang begitu kaku mengatur hak dan kewajiban para pihak, tapi sekali lagi disini kita berbicara bagaimana menepati janji lisan yang sudah disebutkan dan disepakati. Berbicara upah, aku berusaha menyesuaikan selayaknya upah buruh cuci harian.Aku hanya menduga,seringkali ia mengabaikan jadwal kerja di tempatku dan lebih memilih rumah dengan keluarga yang cukup banyak,namun ia banyak mendapatkan sesuatu dari sana (makan siang,ato sembako) dan aku berusaha mengerti sekaligus memahami bagaimana ia harus mempunyai prioritas kerja dalam daftarnya dengan hasil yang lebih besar manfaatnya bagi kelangsungan 4 orang anaknya,walaupun harus mengabaikan sebuah perjanjian. Tapi dirasa-rasa semakin lama,aku merasa ada sesuatu yang salah dalam hal ini dan itu harus diperbaiki.Ya..ketegasan, seringkali aku terus berkompromi,memaafkan segala bentuk pembatalan janji dari mbak Eti karena dalam hati terus berkata, “ah,mungkin dia mempunyai hutang budi di Rumah Ibu atau mungkin tahu karena aku dan kakakku adalah seorang mahasiswa, jadi tidak akan terlalu banyak komplain layaknya ibu rumah tangga yang selalu cerewet melihat rumah dalam keadaan berantakan” dan hari ini, mbak Eti melakukannya lagi melalui sms, aku mencoba memikirkan kata dimana dari situ aku menyampaikan ketidak-setujuanku terhadap ia selama ini, dan mencoba memberikan arahan bagaimana ia seharusnya.Well,kata sudah terucap, lagi-lagi aku mengembalikan makna kata “janji” kepadanya, janji kalau hari sabtu akan datang, dan tidak akan ada kerjaan lain. Dia tak membalas, ketegasan yang aku berusaha sampaikan bukanlah ketegasan dengan kesewenangan karena aku yang memberikan upah ke dia, aku majikan dan dia bawahan, sekali lagi tidak. Ini semata agar ia mengerti bahwa sikap yang salah,harus dibenarkan. Kompromi yang selama ini dilakukan jangan diartikan sebagai pengabaian kewajiban.Semoga esok ia mau mengerti, atau malahan ia lebih memilih pergi dan tidak bekerja lagi di rumahku. Entahlah..

Iklan