Sengaja aku mencantumkan kata “pohon natal, hiasan kado” pada awal judul dan kata gereja sebagai akhirannya hanya untuk menggambarkan apa yang aku lihat selama persiapan hari natal di gereja-gereja kota Bandung ini. Hampir sebagian gereja di Bandung, menyiapkan pohon natal yang penuh semarak dan kerlap-kerlip hiasan lampu yang menarik hati dan tak lupa juga (ini yang membuat aku setengah bertanya dalam hati) hiasan kado yang terletak di bawah pohon natal, seakan-akan gereja ini tengah berlomba dengan beberapa pusat perbelanjaan/mall untuk menghadirkan dekorasi natal yang megah dan menarik perhatian, gereja seolah lupa bahwa gereja adalah tempat ibadah yang semestinya cukuplah melakukan tata ibadah dengan baik dan membawa manfaat untuk jemaat serta sekitarnya, bukan terjerumus atau mungkin mengembangkan sayap ke ranah desain interior (untuk bahasa sarkasnya). Lain lagi dengan sebuah gereja yang minggu lalu aku kunjungi, hampir tidak dijumpai dekorasi natal bahkan pohon natal pun tidak ada (dan ini baru pertama kali aku jumpai). Aku menebak kalian (pembaca) pasti bertanya, ” ini kan urusan dekorasi, masalah sepele, yang penting kita beribadah dengan khidmat”. Yep..saya setuju dengan kalimat terakhirnya. Tapi sadarkah di sini kita diperhadapkan dengan pembahasan “apa yang tepat dan tidak tepat” dan “apa yang wajar dan tidak wajar” mengingat makna hari natal itu sebenarnya adalah sebuah  peristiwa kelahiran Yesus yang lahir dari kandang domba yang notabene jauh dari kata layak dan patut. Gereja seperti fungsinya adalah sebuah persekutuan yang menguatkan, dan saat-saat natal seperti ini semestinya gereja lebih terpacu untuk memperkuat persekutuan serta melakukan kegiatan sosial selayaknya “terang yang memancarkan cahaya-Nya” dan jangan lagi terjebak selebrasi atau bahkan dekorasi natal yang berlebihan. Menengok keadaan masih banyaknya orang yang tidak mempunyai tempat untuk beribadah atau bahkan mereka yang kurang beruntung dalam segala hal. Pada akhirnya aku berpendapat bahwa puji-pujian yang terbaik datang dari kesederhanaan dan kepedulian dan ku harap natal seperti itu. Jika aku ditanya apa yang berkesan di hari natal, aku menjawab berkumpul bersama siapapun (g perlu kue dan minum lah) karena tahun ini natal ku lewatkan terpisah bersama keluarga

Iklan