Manusia Minggu Senin, Mar 21 2011 

Manusia Minggu Aku datang di hari yang sama, hanya ingin sedikit bercerita

perjalanan yang ku alami selama 6 hari. Di rumah-Mu aku serasa bisa melepas

segalanya bahkan setiap inci dosaku samar ku dengar Kau berbicara, “Aku

telah mengampunimu”. Setiap permasalahan yang ku hadapi saat itu juga

ajaib ku rasakan Kau mengangkat bebanku. Kini setelah hari berganti, ku

merasa beban yang serupa kembali datang, ia terkadang beralih dari beban

fisik menjadi beban psikis. Tak pernah ku menyangka bahwa setelah hari

minggu aku adalah sang pecundang, si pongah yang tak tahu diri.

 

Akulah si manusia minggu, aku memisahkan waktu untuk-Mu dan waktu

untuk kerjaanku. Tak peduli apa yang Kau rasa, aku menjanjikanMu 1 hari

untuk bertemu, selebihnya..aku sibuk, aku tak mau diganggu.

Akulah si manusia minggu; terlihat kuat namun rapuh, terkesan kokoh tapi

nyatanya mudah untuk merengek. Tak pernah ku bayangkan

 

Ps: ku tinggalkan surat ini agar Kau menemuiku, situasi ini terlalu membingungkan 😦

FRATERNITY: Sebuah Nama tak Sengaja Jumat, Mar 18 2011 

Aku mengusulkan nama FRATERNITY pada kelompok ini bukan tanpa maksud, tadinya ku bermaksud “menegur” seseorang karena kepribadiannya yang ceplas-ceplos, cenderung bossy dan sering membuat orang salah mengerti dengan apa yang dia katakan. Kata Fraternity awalnya pun tak sengaja ku temukan saat kami sedang mengadakan persiapan debat, aku memilih kata ini dengan harapan bahwa kami bisa benar-benar ber-fraternity, saling memahami satu sama lain. Namun dalam kenyataannya hal ini sulit untuk diwujudkan. Aku semakin menegaskan arti fraternity ke dalam akronim kata (FR)eedom, (A)rt, (TE)chnique, acountabil(ITY), aku sengaja menyusun akronim ini sesuai dengan kemampuan teman-temanku, aku memilih kata freedom untuk menggambarkan diriku tak pernah ingin terlalu di-push untuk melakukan sesuatu, karena kata ini hendak menyampaikan pesan pada seseorang itu yang berusaha terus mengulang kata “sudah paham?” padaku saat ku berusaha mencerna segala angka-angka konyol itu. Ketidaknyamanan ini yang hampir menjadikanku sebagai manusia pasif, terus terkungkung pada pertemuan yang tegang dan komunikasi yang buruk. Dan hari ini adalah puncaknya, salah satu temanku meluapkan ketidaksenangan sikap kawanku yang lain karena ia cenderung memikirkan dirinya sendiri, dan ia meluapkan di saat yang tepat. Kejadian ini yang membuatku terus berpikir, sekaligus menegaskan apa yang ada selama ini ku alami, pemimpin yang baik bukanlah dinilai dari sepintar apa ia dalam bidangnya, tapi yang sesungguhnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomukasi. Soekarno, Marthin Luther King Jr; mereka adalah pemimpin yang tak hanya pintar berbicara tapi juga mampu melakukan komunikasi 2 arah, berusaha mendapatkan simpati dengan setiap orang yang ditemuinya. Hari ini menjadi sebuah pelajaran, mungkin yang ketiga kalinya, kelompok ini butuh pemimpin dan komunikasi. Aku berharap, sisa 1 tahun ini bisa kami manfaatkan benar membentuk kelompok ini sebagai keluarga, dan ruang 3×4 itu sebagai rumah, bukan penjara ber-AC;pengap dan kaku

Ketika Tuhan Berhutang Jawaban.. Jumat, Mar 4 2011 

Aku terkesan dengan tokoh Elia yang digambarkan oleh Paulo Coelho, sang Novelis dalam bukunya Fifth Mountain. Katanya Konfrontasi dengan Tuhan diperbolehkan dengan tujuan supaya Tuhan memberkati kita,malah dengan lantangnya Elia membandingkan kesalahan yang ia telah perbuat dengan yang Tuhan perbuat. Merasa bahwa Tuhan telah merenggut cinta seorang wanita yang ia sayangi, Elia dengan keadaan kalut dan kecewa berkata kepada Tuhan, “Kau berhutang kepada ku..”. Bagaimana bisa Ia yang Maha Kuasa, Maha Memberi bisa dikatakan berhutang pada hambanya yang tak seberapa. Tapi di titik inilah aku mencoba “meniru” gaya Elia dalam berkonfrontasi dengan Tuhan tentu dengan penyesuaian keadaan.  Setiap harinya aku merasa aku hidup dengan lingkungan yang mengancam, gerutuan lebih sering terlontarkan daripada ucapan syukur atau sebagainya. Seolah Tuhan pun tidak betah berada terus di sampingku, ketenangan itu telah hilang. Untuk beberapa kondisi, diam memang menjadi simbol ketidaknyamanan, ketidakberanian untuk mengatakan sesuatu karena tertahan hal lain. Aku tak berharap Tuhan mengomentari blog ini, aku hanya butuh jawaban dan penegasan dari semua ini, ” what should i do?”. (Please) Make it quick God..