Aku mengusulkan nama FRATERNITY pada kelompok ini bukan tanpa maksud, tadinya ku bermaksud “menegur” seseorang karena kepribadiannya yang ceplas-ceplos, cenderung bossy dan sering membuat orang salah mengerti dengan apa yang dia katakan. Kata Fraternity awalnya pun tak sengaja ku temukan saat kami sedang mengadakan persiapan debat, aku memilih kata ini dengan harapan bahwa kami bisa benar-benar ber-fraternity, saling memahami satu sama lain. Namun dalam kenyataannya hal ini sulit untuk diwujudkan. Aku semakin menegaskan arti fraternity ke dalam akronim kata (FR)eedom, (A)rt, (TE)chnique, acountabil(ITY), aku sengaja menyusun akronim ini sesuai dengan kemampuan teman-temanku, aku memilih kata freedom untuk menggambarkan diriku tak pernah ingin terlalu di-push untuk melakukan sesuatu, karena kata ini hendak menyampaikan pesan pada seseorang itu yang berusaha terus mengulang kata “sudah paham?” padaku saat ku berusaha mencerna segala angka-angka konyol itu. Ketidaknyamanan ini yang hampir menjadikanku sebagai manusia pasif, terus terkungkung pada pertemuan yang tegang dan komunikasi yang buruk. Dan hari ini adalah puncaknya, salah satu temanku meluapkan ketidaksenangan sikap kawanku yang lain karena ia cenderung memikirkan dirinya sendiri, dan ia meluapkan di saat yang tepat. Kejadian ini yang membuatku terus berpikir, sekaligus menegaskan apa yang ada selama ini ku alami, pemimpin yang baik bukanlah dinilai dari sepintar apa ia dalam bidangnya, tapi yang sesungguhnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomukasi. Soekarno, Marthin Luther King Jr; mereka adalah pemimpin yang tak hanya pintar berbicara tapi juga mampu melakukan komunikasi 2 arah, berusaha mendapatkan simpati dengan setiap orang yang ditemuinya. Hari ini menjadi sebuah pelajaran, mungkin yang ketiga kalinya, kelompok ini butuh pemimpin dan komunikasi. Aku berharap, sisa 1 tahun ini bisa kami manfaatkan benar membentuk kelompok ini sebagai keluarga, dan ruang 3×4 itu sebagai rumah, bukan penjara ber-AC;pengap dan kaku

Iklan