Baru-baru ini saya mengunjungi Jogja untuk kesekian kalinya, maksud hati untuk mencari topik tesis mengenai strategi bisnis sebuah rental video namun perbincangan yang kami lakukan melebar sampai bagaimana mengatasi pembajakan film. Namanya mas dian, dia pemilik sebuah rental video di Jogja. Tidak seperti rental video pada umumnya yang hanya menyediakan film mainstream (Hollywood, etc), ia menyediakan film klasik sampai film independen. Ia bercerita bagaimana ia membangun usaha yang saat ini sudah mempunyai 2 cabang di kota yang sama. Ya, idealis..ia yang mengaku dari kecil telah “dipaksa” untuk menonton beraneka film kini harus berani mewujudkannya di bidang usahanya, ia menyebutnya “meng-komersilkan idealisme”. Dengan berbekal ketertarikannya akan sebuah film berkualitas(walaupun sekali lagi pendapat tentang sebuah film tentu sifatnya tergantung subyektifitas penonton) perlahan ia membangun usahanya. Awalnya ia sempat menyediakan film yang saat itu diminta oleh pangsa pasar, namun seiring idealis dan juga edukasi tak langsung yang ia lakukan terhadap pelanggan yang datang membuat film klasik dan independen mulai disukai. Dia mengaku menggunakan strategi promosi seadanya, malah hanya mengandalkan rekomendasi dari pelanggan setianya (word of mouth)

                Nah, apa hubungannya dengan memerangi pembajakan film?beliau sendiri mengutarakan bahwa pembajakan hanya bisa hapus apabila harga sekeping piringan film berharga tal lebih dari Rp7-10.000,- dengan begitu konsumen akan berpikir untuk mendapatkan suatu film dengan kualitas baik dan harga terjangkau saja saya bisa, kenapa saya harus membeli yang bajakan?!. Kemudian, mas Dian sempat bercerita bahwa asosiasi pengusaha rental video se-jogja pernah berdiri namun seiring berjalannya waktu, perbedaan prinsip bisnis dan pribadi membuat paguyuban ini bubar. Satu ketika saya sempat berpikir, kalau saja regulasi dan himbauan dari pemerintah dan aparat hukum saja mental ketika menghadapi pembajakan, kira-kira bagaimana ya kalau himbauan ini dimulai dari komunitas. Ide ini muncul saat saya melihat sebuah baliho besar dari Apkomindo Jogja (lupa euy kepanjangannya) yang tegas berkata “ Jangan beli software bajakan, agar terpercaya belilah di toko yang terasosiasi dengan Apkomindo”. Jadi kalau bisa berpendapat, rental video ini kan usaha kecil menengah (yah jangan dulu dibandingin dengan rental franchise seperti ezy dan ultra disc) dan berawal dari idealism seorang mas Dian, semestinya film bisa memberikan edukasi tersendiri bagi penontonnya. Nah kenapa pemerintah tidak memulainya dengan pemberian insentif pembelian keping cd original dan sekaligus mengatur regulasi yang disepakati asosiasi rental video; regulasinya bisa berupa konten film yang sebaiknya ada di rental video(independen, klasik atau documenter). Mungkin lingkup asosiasi ini bisa dimulai dari tingkat provinsi seperti jogja, apalagi saya berani bilang kalau usaha rental video (selain produk franchise yang pasti menggunakan cd original)  tidaklah semarak factory outlet ataupun produk makanan, jadi akan mudah untuk melakukan pengawasannya. Kalau saja di sebuah kota terdapat 2-3 komunitas pecinta film tentunya hal ini bisa mendukung, komunitas pecinta filmlah yang menjadi tim marketing yang kemudian mengadakan kegiatan nonton bareng di masyarakat sehingga masyarakat dapat memiliki wawasan akan sebuah film dan mendapatkan hal positif dari film tersebut. Menarik, kalau saja komunitas video rental dihidupkan kembali bukan tak mungkin jalan untuk merintis gerakan anti pembajakan dapat tercapai

Iklan