Percayalah tulisan ini bukan tentang politik dalam sepakbola atau bukan juga menghubungkan-hubungkan kinerja pelatih Wim Rijsbergen yang gagal membawa Indonesia melewati babak pra-kualifikasi piala dunia 2014. Judul ini hanya untuk memberikan pendapat lain bagi pembaca blog ini betapa pergantian pelatih bisa merubah segalanya, terkadang menjadikan 11 pemain menjadi “laboratorium percobaan” mereka. Saya berusaha menjadi obyektif dalam tulisan ini dan terserah orang lain untuk menilai seberapa besar kadar darah “ke-biru-hitaman” saya. Beginilah ceritanya;

Alvares?Obi?terus siapa itu nomor punggung 30,cha-ag..chagnatos apa ya?.Entah apa yang ada di benak pikiran Ranieri, pertandingan besar melawan Juventus semalam (30/10) tapi kenapa pemain dari antah berantah yang diturunkan. Memasuki pekan ke-10 dengan pergantian pelatih sebelumnya, membuatku berpikir Inter belum menemukan performa terbaiknya. Pola pikir dan strategi pelatih yang berbeda-beda aku pikir jadi akar permasalahan di sini. Contohnya, bisa dilihat saat Ranieri menurunkan starting line-up nya dalam melawan Juventus dan pola permainaan saat pertandingan. Hampir 50% pemain utama yang dimainkan dalam babak pertama membuat dahiku sedikit berkenyit. Siapa itu Pazzini, Zarate, Nagatomo?kemana Milito, Stankovic, Cordoba?. Nama-nama pemain yang aku ketahui berpengalaman dalam membawa Inter juara. Well, jujur memang pertandingan kontra Juventus pagi tadi jadi pengamatanku yang pertama dalam musim 2011-2012, tapi melihat passingnya yang sembrono, sisi kanan-kiri pertahanan yang selalu kecolongan, tic tac yang dilakukan tanpa koordinasi weh ini pasti ada yang salah dengan koordinasi dan disiplin antar pemain. Sejak era Leonardo (pemain dari musuh bebuyutan-AC Milan gitu loh?tau apa dengan gaya permainan Inter Milan), Gasperini (Pelatih debutan-Emang Inter tim debutan?gak cocok kan?) sampai pelatih sekarang, Ranieri kok (bagiku) pola permainannya belum ada yang sreg ya. Mungkin hanya di era Mourinho dengan treble winner¬-nya aku berani bilang inilah pola permainan terhebat bagi Inter Milan sejak tahun 2000 (tahun dimana aku menjadi tifosi Inter Milan). Dengan kedisplinan, penempatan pemain yang selalu tepat pastilah sang pelatih telah berhasil menerapkan bagaimana koordinasi yang baik namun sayang setelah Mou pergi, strategi yang berhasil itu tidak diteruskan. Memang setiap pelatih mempunyai ciri khas tersendiri dari gaya permainan sampai pemilihan pemain, tapi kalo dalam beberapa bulan frekuensi “kocok ulang” pelatih terbilang besar maka bisa dipastikan tidak ada identitas permainan yang utuh.

Kalau mau diperhatikan, ada sih jalan agar bagaimana formasi permainan sebuah klub dapat dijaga, walaupun pergantian pelatih sering dilakukan. Memaksimalkan peran dari Direktur Teknik jawabannya. Zidane, Jorge Valdano, Fernando Hiero merupakan beberapa nama dari Direktur Teknik klub dan Tim Nasional. Mereka yang rata-rata pernah berstatus pemain dan punya andil besar dalam membawa tim mereka menjadi juara tentu memiliki modal pengetahuan besar untuk bagaimana membentuk sebuah tim dengan mental juara, maka seringnya jabatan Direktur Teknik pasti akan diberikan kepada mantan pemain yang telah lama bermain dan mempunyai prestasi tersendiri. Ini semata karena jabatan ini berusaha untuk menjaga kesinambungan gaya permainan, kalaupun ada perubahan tentunya itu bisa di padu-padankan. Direktur teknik memiliki tanggung jawab merumuskan konsep dan landasan tim/klub akan seperti apa dalam lima, 10 atau 15tahun ke depan serta peran yang terpenting adalah ikut andil dalam menentukan gaya permainan tim sampai formasi saat bermain. Direktur Teknik juga bertanggung jawab memilih atau memberikan syarat-syarat sosok pelatih kepala dan staf pendukung kepelatihan yang akan ditunjuk bagi klub. Syarat-syarat tersebut tentunya dibuat berdasarkan kebutuhan klub itu sendiri. Nah,mungkin dari pengamatan “dangkal” ini bisa diperhatikan bagaimana Direktur teknik Inter Milan ikut menilai dalam gaya permainan sekarang, apakah menyimpang jauh? Apakah membuat pemain merasa nyaman dan enjoy?. Evaluasi pelatih belum terlambat mumpung baru memasuki pekan ke-10, masih ada 24 pekan lagi untuk mengejar ketertinggalan dari peringkat-17 (atau pasca kekalahan dari Juventus akan melorot lagi). Terlalu dini lah untuk mengatakan bahwa Inter akan ter-degradasi ke Serie-B!