TB Silalahi Center, Balige Selasa, Des 13 2011 

TB Silalahi Center, Balige

Iklan

Sondang dan Hakikat Perjuangan Mahasiswa Sesungguhnya Selasa, Des 13 2011 

Sungguh tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi ataupun mendukung tindakan pembakaran diri yang dilakukan oleh Sondang Hutagalung di depan Istana Presiden minggu lalu. Tulisan ini hanya mengajukan beberapa hal yang terasa dilebih-lebihkan. Pertama, kejadian pembakaran ini dilakukan oleh Almarhum pada saat terjadi unjuk rasa oleh perangkat desa yang menuntut adanya UU desa (kalau tidak salah). Jadi kalau yang say a baca dari beberapa petikan artikel portal berita, Sondang yang dalam keadaan terbakar menyeruak di antara massa yang berdemonstran. Jadi poin pentingnya adalah, kita tidak mengetahui betul motif yang melatarbelakangi mengapa ia melakukan aksi bakar diri tersebut atau setidaknya tidak diketahui sebelum membakar diri apakah ada kerumunan orang yang berada bersama Sondang dan mengetahui maksud aksinya. Kemudian hal berikutnya adalah pemberian gelar sarjana kehormatan yang diberikan oleh almamaternya, Universitas Bung Karno. Bahwa ia ternyata seorang yang berprestasi dengan IPK > 3 itu memang patut di apresiasi, belum lagi segudang organisasi yang dilakoninya walaupun organisasi itu bukan bagian dari lembaga kemahasiswaan. Dikenal kritis dan berwawasan luas oleh beberapa kalangan penggiat HAM yang mengenal dekat dengan Sondang dan seorang yang supel dalam bergaul.

Namun jika boleh,  perlu dilihat kembali bahwa gelar Sarjana (apalagi gelar sarjana kehormatan) mempunyai arti penting terhadap diri kita dan masyarakat yang memandangnya. Tidak hanya sekedar prestise yang tidak semua bisa dimiliki oleh orang, akan tetapi gelar ini menjadi beban bagi seseorang ketika ia turun ke dalam masyarakat ataupun ketika ia bekerja dengan lingkungan  yang baru. Seorang sarjana dengan ilmu pengetahuan yang telah ditempuh selama 4 tahun harus menunjukkan tingkat intelektualitasnya dalam bertutur kata maupun bertindak. Taruhlah hal ini diterapkan kepada Sondang yang dikenal sebagai aktivis HAM yang giat  berdiskusi, advokasi dan menulis tulisan maka hal demikianlah yang seharusnya terus dilakukan sebagai seorang warga akademis, berjuang dalam ke-ilmuannya bukan dengan cara yang sebetulnya tergolong bodoh dengan menyiksa diri (terlepas dari hal yang dilakukannya merupakan simbol pengorbanan diri, kita harus fair tidak semua orang melihat sampai sejauh itu).

Beberapa aksi unjuk rasa tak jarang menampilkan hal-hal yang tergolong berbahaya seperti; jahit mulut sampai mogok makan. Aksi seperti ini kebanyakan mempunyai efek tekanan yang luar biasa terhadap tuntutan karena keadaanya sudah sedemikian mendesak dan saya yang memandang Sondang pun berpikir bahwa dengan aksi bakar diri yang dilakukannya, tuntutan atas penegakan hukum yang menjadi perjuangannya semasa hidup dan aktif mengadvokasi korban pelanggaran HAM memang sangat mendesak untuk dituntaskan.

Gerakan Mahasiswa yang massif dilakukan pada tahun 1998 saya pikir tidak terjadi karena aksi turun ke jalan, membawa spanduk, dsb akan tetapi kekuatan dalam berjejaring, diskusi dan tulisan yang seringkali membawa motivasi dalam pergerakan dan sekali lagi, begitulah hakikat perjuangan seorang mahasiswa berpikir, menulis, berdiskusi dan jika tidak ditemukan jawabannya..turun ke jalan