Selamat Tahun Baru 2012! optimisme baru sedang panas-panasnya, resolusi siap diwujudkan. Kalau resolusi saya sih sederhana; Bisa lulus S2 tahun ini dan berharap Inter Milan benar-benar berkunjung ke Indonesia pertengahan tahun ini.

 Nah, mengawali tulisan di tahun 2012 ini saya awali saja dengan pengalaman ke Singapura pertama kali (kebetulan ingin merayakan natal) bulan Desember kemarin. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya merasa negara ini berbeda; kecil,ramah lingkungan dan warganya punya disiplin tinggi. Nyamannya kendaraan massal (MRT) Singapura membuat saya bergumam, “tahun berapa ya Indonesia bisa seperti ini?”.

Pada hari natal, kami sekeluarga beribadah di gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan)- hal yang membuat saya bangga bahwa orang batak nyata tersebar di luar negeri. Tapi satu hal yang kemudian membuat sayua heran, gereja HKBP Singapura masih menumpang di gedung gereja Methodist Tamil, yah mungkin benar apa kata banyak orang kalau bangunan dan tanah di Singapura tuh terbatas dan mahal jadi banyak lebih banyak ditemui ruko ketimbang komplek rumah. Tak banyak jemaat yang hadir pada kebaktian itu, kebanyakan dari mereka adalah jemaat Indonesia yang sedang berlibur di Singapura (termasuk saya). Tata ibadahnya tak jauh berbeda, namun melihat dekorasi gereja ala gereja Tamil saya merasakan  suasana yang berbeda dan sedikit asing akan tetapi menjadi indah karena melihat perbedaan yang boleh terjadi. Sampai ketika penyampaian doa syafaat oleh salah satu jemaat (bukan pendeta pada umumnya) dan jemaat itu berdoa seperti demikian (kurang lebihnya), “ Terima Kasih kepada Pemerintah negeri ini dimana kami masih bisa beribadah….”. seketika itu juga pikiran saya melayang menuju peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia, dalam  hal ini pelarangan  ibdah di GKI Yasmin dan HKBP Bekasi. Kesan pembiaran yang dilakukan oleh beberapa pejabat di Indonesia terhadap kasus-kasus seperti ini membuat saya pribadi bertanya, “masih pantaskah kita berterima kasih terhadap pemerintah?”.

Meskipun penduduk Singapura mayoritas adalah  ras Cina dan luas wilayahnya jauh  lebih kecil dibanding Indonesia, saya salut bagaimana pemerintahnya bisa melindungi warga negaranya (bahkan mungkin saja jemaat HKBP Singapura belum tentu menjadi warga negara Singapura) dan saya merindukan itu terjadi di Indonesia. Mari kembali merajut kebhinekaan di tahun baru ini J