Mengamati Keberadaan Rumah Sakit Non-Profit Rabu, Mar 14 2012 

Apa yang menarik dari meneliti organisasi non-profit? tidak tuntas dalam pengumpulan data dan lebih mengetahui intrik politis mungkin adalah hal yang paling banyak ditemukan. Pikiran kita bisa dibuat ruwet ketika harus mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, ancaman , peluang begitu juga dengan sumber dana yang menjadi nadi kehidupan mereka. Keadaan seperti itulah yang saat ini sedang saya hadapi. Bermodal rasa penasaran dan idealisme saya beranikan untuk membuat topik mengenai organisasi non profit, dalam hal ini adalah sebuah rumah sakit yang berada di Sukabumi. Belum genap berjalan 1 tahun, tetapi rumah sakit ini sudah melakukan banyak hal terhadap masyarakat sekitar, dan hal itu disediakan secara gratis alias cuma-cuma.

Berangkat dari sebuah misi bahwa setiap orang dalam hal ini warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan akses kesehatan yang layak dan setara, rumah sakit ini berdiri untuk mengakomodir hal tersebut. Intensitas profit seeking yang semakin sering dilakukan oleh rumah sakit kebanyakan, bahkan pada rumah sakit umum daerah, tidak memungkinkan bagi pasien yang berasal dari kelas ekonomi bawah untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit dengan kualitas yang baik. Kita bisa dengan mudah mendapatkan berita-berita penolakan pasien miskin atau jamkesmas oleh rumah sakit yang terjadi di banyak daerah. Modusnya bisa bermacam-macam; dari tidak tersedianya fasilitas kelas 3 sehingga pasien mau tidak mau mengambil fasilitas kamar yang lebih mahal sampai ruwetnya proses pendaftaran pasien jamkesmas.

Rumah sakit non-profit ini image-nya tidak bisa lepas dari afiliasi suatu partai politik sebagai endorser di tingkat kebijakan dan pengumpulan dana, sehingga donasi yang diberikan tak sedikit yang berasal dari pejabat dan anggota legislatif. Intrik-intrik juga membayangi keberadaan rumah sakit ini,mulai dicap sebagai rumah sakit komunis karena mengusung tema “tanpa kelas” sampai berbau kristenisasi karena lambang yang digunakkan. Bagi saya, pendapat-pendapat seperti ini jelas pendapat orang-orang yang telah kehilangan rasa kemanusiaan dan kepekaannya.

Lalu bagaimana respon si pasien?nah saya baru akan mengajukan kuesionernya. Singkatnya, keberadaan rumah sakit ini  harus menjadi alert bagi pemerintah untuk memulai dengan serius proyek kesehatan gratis bagi masyarakat miskin dan tentunya dengan distribusi yang merata. Tentu pembangunan rumah sakit yang serupa di daerah akan sangat membantu hal tersebut. Semoga..(To be continued)

Iklan

Singapura Dalam Doa Seorang Jemaat Senin, Jan 9 2012 

Selamat Tahun Baru 2012! optimisme baru sedang panas-panasnya, resolusi siap diwujudkan. Kalau resolusi saya sih sederhana; Bisa lulus S2 tahun ini dan berharap Inter Milan benar-benar berkunjung ke Indonesia pertengahan tahun ini.

 Nah, mengawali tulisan di tahun 2012 ini saya awali saja dengan pengalaman ke Singapura pertama kali (kebetulan ingin merayakan natal) bulan Desember kemarin. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya merasa negara ini berbeda; kecil,ramah lingkungan dan warganya punya disiplin tinggi. Nyamannya kendaraan massal (MRT) Singapura membuat saya bergumam, “tahun berapa ya Indonesia bisa seperti ini?”.

Pada hari natal, kami sekeluarga beribadah di gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan)- hal yang membuat saya bangga bahwa orang batak nyata tersebar di luar negeri. Tapi satu hal yang kemudian membuat sayua heran, gereja HKBP Singapura masih menumpang di gedung gereja Methodist Tamil, yah mungkin benar apa kata banyak orang kalau bangunan dan tanah di Singapura tuh terbatas dan mahal jadi banyak lebih banyak ditemui ruko ketimbang komplek rumah. Tak banyak jemaat yang hadir pada kebaktian itu, kebanyakan dari mereka adalah jemaat Indonesia yang sedang berlibur di Singapura (termasuk saya). Tata ibadahnya tak jauh berbeda, namun melihat dekorasi gereja ala gereja Tamil saya merasakan  suasana yang berbeda dan sedikit asing akan tetapi menjadi indah karena melihat perbedaan yang boleh terjadi. Sampai ketika penyampaian doa syafaat oleh salah satu jemaat (bukan pendeta pada umumnya) dan jemaat itu berdoa seperti demikian (kurang lebihnya), “ Terima Kasih kepada Pemerintah negeri ini dimana kami masih bisa beribadah….”. seketika itu juga pikiran saya melayang menuju peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia, dalam  hal ini pelarangan  ibdah di GKI Yasmin dan HKBP Bekasi. Kesan pembiaran yang dilakukan oleh beberapa pejabat di Indonesia terhadap kasus-kasus seperti ini membuat saya pribadi bertanya, “masih pantaskah kita berterima kasih terhadap pemerintah?”.

Meskipun penduduk Singapura mayoritas adalah  ras Cina dan luas wilayahnya jauh  lebih kecil dibanding Indonesia, saya salut bagaimana pemerintahnya bisa melindungi warga negaranya (bahkan mungkin saja jemaat HKBP Singapura belum tentu menjadi warga negara Singapura) dan saya merindukan itu terjadi di Indonesia. Mari kembali merajut kebhinekaan di tahun baru ini J

TB Silalahi Center, Balige Selasa, Des 13 2011 

TB Silalahi Center, Balige

Sondang dan Hakikat Perjuangan Mahasiswa Sesungguhnya Selasa, Des 13 2011 

Sungguh tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi ataupun mendukung tindakan pembakaran diri yang dilakukan oleh Sondang Hutagalung di depan Istana Presiden minggu lalu. Tulisan ini hanya mengajukan beberapa hal yang terasa dilebih-lebihkan. Pertama, kejadian pembakaran ini dilakukan oleh Almarhum pada saat terjadi unjuk rasa oleh perangkat desa yang menuntut adanya UU desa (kalau tidak salah). Jadi kalau yang say a baca dari beberapa petikan artikel portal berita, Sondang yang dalam keadaan terbakar menyeruak di antara massa yang berdemonstran. Jadi poin pentingnya adalah, kita tidak mengetahui betul motif yang melatarbelakangi mengapa ia melakukan aksi bakar diri tersebut atau setidaknya tidak diketahui sebelum membakar diri apakah ada kerumunan orang yang berada bersama Sondang dan mengetahui maksud aksinya. Kemudian hal berikutnya adalah pemberian gelar sarjana kehormatan yang diberikan oleh almamaternya, Universitas Bung Karno. Bahwa ia ternyata seorang yang berprestasi dengan IPK > 3 itu memang patut di apresiasi, belum lagi segudang organisasi yang dilakoninya walaupun organisasi itu bukan bagian dari lembaga kemahasiswaan. Dikenal kritis dan berwawasan luas oleh beberapa kalangan penggiat HAM yang mengenal dekat dengan Sondang dan seorang yang supel dalam bergaul.

Namun jika boleh,  perlu dilihat kembali bahwa gelar Sarjana (apalagi gelar sarjana kehormatan) mempunyai arti penting terhadap diri kita dan masyarakat yang memandangnya. Tidak hanya sekedar prestise yang tidak semua bisa dimiliki oleh orang, akan tetapi gelar ini menjadi beban bagi seseorang ketika ia turun ke dalam masyarakat ataupun ketika ia bekerja dengan lingkungan  yang baru. Seorang sarjana dengan ilmu pengetahuan yang telah ditempuh selama 4 tahun harus menunjukkan tingkat intelektualitasnya dalam bertutur kata maupun bertindak. Taruhlah hal ini diterapkan kepada Sondang yang dikenal sebagai aktivis HAM yang giat  berdiskusi, advokasi dan menulis tulisan maka hal demikianlah yang seharusnya terus dilakukan sebagai seorang warga akademis, berjuang dalam ke-ilmuannya bukan dengan cara yang sebetulnya tergolong bodoh dengan menyiksa diri (terlepas dari hal yang dilakukannya merupakan simbol pengorbanan diri, kita harus fair tidak semua orang melihat sampai sejauh itu).

Beberapa aksi unjuk rasa tak jarang menampilkan hal-hal yang tergolong berbahaya seperti; jahit mulut sampai mogok makan. Aksi seperti ini kebanyakan mempunyai efek tekanan yang luar biasa terhadap tuntutan karena keadaanya sudah sedemikian mendesak dan saya yang memandang Sondang pun berpikir bahwa dengan aksi bakar diri yang dilakukannya, tuntutan atas penegakan hukum yang menjadi perjuangannya semasa hidup dan aktif mengadvokasi korban pelanggaran HAM memang sangat mendesak untuk dituntaskan.

Gerakan Mahasiswa yang massif dilakukan pada tahun 1998 saya pikir tidak terjadi karena aksi turun ke jalan, membawa spanduk, dsb akan tetapi kekuatan dalam berjejaring, diskusi dan tulisan yang seringkali membawa motivasi dalam pergerakan dan sekali lagi, begitulah hakikat perjuangan seorang mahasiswa berpikir, menulis, berdiskusi dan jika tidak ditemukan jawabannya..turun ke jalan

Inter Milan dan Blunder “Kocok Ulang” Pelatih Minggu, Okt 30 2011 

Percayalah tulisan ini bukan tentang politik dalam sepakbola atau bukan juga menghubungkan-hubungkan kinerja pelatih Wim Rijsbergen yang gagal membawa Indonesia melewati babak pra-kualifikasi piala dunia 2014. Judul ini hanya untuk memberikan pendapat lain bagi pembaca blog ini betapa pergantian pelatih bisa merubah segalanya, terkadang menjadikan 11 pemain menjadi “laboratorium percobaan” mereka. Saya berusaha menjadi obyektif dalam tulisan ini dan terserah orang lain untuk menilai seberapa besar kadar darah “ke-biru-hitaman” saya. Beginilah ceritanya;

Alvares?Obi?terus siapa itu nomor punggung 30,cha-ag..chagnatos apa ya?.Entah apa yang ada di benak pikiran Ranieri, pertandingan besar melawan Juventus semalam (30/10) tapi kenapa pemain dari antah berantah yang diturunkan. Memasuki pekan ke-10 dengan pergantian pelatih sebelumnya, membuatku berpikir Inter belum menemukan performa terbaiknya. Pola pikir dan strategi pelatih yang berbeda-beda aku pikir jadi akar permasalahan di sini. Contohnya, bisa dilihat saat Ranieri menurunkan starting line-up nya dalam melawan Juventus dan pola permainaan saat pertandingan. Hampir 50% pemain utama yang dimainkan dalam babak pertama membuat dahiku sedikit berkenyit. Siapa itu Pazzini, Zarate, Nagatomo?kemana Milito, Stankovic, Cordoba?. Nama-nama pemain yang aku ketahui berpengalaman dalam membawa Inter juara. Well, jujur memang pertandingan kontra Juventus pagi tadi jadi pengamatanku yang pertama dalam musim 2011-2012, tapi melihat passingnya yang sembrono, sisi kanan-kiri pertahanan yang selalu kecolongan, tic tac yang dilakukan tanpa koordinasi weh ini pasti ada yang salah dengan koordinasi dan disiplin antar pemain. Sejak era Leonardo (pemain dari musuh bebuyutan-AC Milan gitu loh?tau apa dengan gaya permainan Inter Milan), Gasperini (Pelatih debutan-Emang Inter tim debutan?gak cocok kan?) sampai pelatih sekarang, Ranieri kok (bagiku) pola permainannya belum ada yang sreg ya. Mungkin hanya di era Mourinho dengan treble winner¬-nya aku berani bilang inilah pola permainan terhebat bagi Inter Milan sejak tahun 2000 (tahun dimana aku menjadi tifosi Inter Milan). Dengan kedisplinan, penempatan pemain yang selalu tepat pastilah sang pelatih telah berhasil menerapkan bagaimana koordinasi yang baik namun sayang setelah Mou pergi, strategi yang berhasil itu tidak diteruskan. Memang setiap pelatih mempunyai ciri khas tersendiri dari gaya permainan sampai pemilihan pemain, tapi kalo dalam beberapa bulan frekuensi “kocok ulang” pelatih terbilang besar maka bisa dipastikan tidak ada identitas permainan yang utuh.

Kalau mau diperhatikan, ada sih jalan agar bagaimana formasi permainan sebuah klub dapat dijaga, walaupun pergantian pelatih sering dilakukan. Memaksimalkan peran dari Direktur Teknik jawabannya. Zidane, Jorge Valdano, Fernando Hiero merupakan beberapa nama dari Direktur Teknik klub dan Tim Nasional. Mereka yang rata-rata pernah berstatus pemain dan punya andil besar dalam membawa tim mereka menjadi juara tentu memiliki modal pengetahuan besar untuk bagaimana membentuk sebuah tim dengan mental juara, maka seringnya jabatan Direktur Teknik pasti akan diberikan kepada mantan pemain yang telah lama bermain dan mempunyai prestasi tersendiri. Ini semata karena jabatan ini berusaha untuk menjaga kesinambungan gaya permainan, kalaupun ada perubahan tentunya itu bisa di padu-padankan. Direktur teknik memiliki tanggung jawab merumuskan konsep dan landasan tim/klub akan seperti apa dalam lima, 10 atau 15tahun ke depan serta peran yang terpenting adalah ikut andil dalam menentukan gaya permainan tim sampai formasi saat bermain. Direktur Teknik juga bertanggung jawab memilih atau memberikan syarat-syarat sosok pelatih kepala dan staf pendukung kepelatihan yang akan ditunjuk bagi klub. Syarat-syarat tersebut tentunya dibuat berdasarkan kebutuhan klub itu sendiri. Nah,mungkin dari pengamatan “dangkal” ini bisa diperhatikan bagaimana Direktur teknik Inter Milan ikut menilai dalam gaya permainan sekarang, apakah menyimpang jauh? Apakah membuat pemain merasa nyaman dan enjoy?. Evaluasi pelatih belum terlambat mumpung baru memasuki pekan ke-10, masih ada 24 pekan lagi untuk mengejar ketertinggalan dari peringkat-17 (atau pasca kekalahan dari Juventus akan melorot lagi). Terlalu dini lah untuk mengatakan bahwa Inter akan ter-degradasi ke Serie-B!

Laman Berikutnya »