Melawan Pembajakan Melalui Komunitas Sabtu, Agu 27 2011 

Baru-baru ini saya mengunjungi Jogja untuk kesekian kalinya, maksud hati untuk mencari topik tesis mengenai strategi bisnis sebuah rental video namun perbincangan yang kami lakukan melebar sampai bagaimana mengatasi pembajakan film. Namanya mas dian, dia pemilik sebuah rental video di Jogja. Tidak seperti rental video pada umumnya yang hanya menyediakan film mainstream (Hollywood, etc), ia menyediakan film klasik sampai film independen. Ia bercerita bagaimana ia membangun usaha yang saat ini sudah mempunyai 2 cabang di kota yang sama. Ya, idealis..ia yang mengaku dari kecil telah “dipaksa” untuk menonton beraneka film kini harus berani mewujudkannya di bidang usahanya, ia menyebutnya “meng-komersilkan idealisme”. Dengan berbekal ketertarikannya akan sebuah film berkualitas(walaupun sekali lagi pendapat tentang sebuah film tentu sifatnya tergantung subyektifitas penonton) perlahan ia membangun usahanya. Awalnya ia sempat menyediakan film yang saat itu diminta oleh pangsa pasar, namun seiring idealis dan juga edukasi tak langsung yang ia lakukan terhadap pelanggan yang datang membuat film klasik dan independen mulai disukai. Dia mengaku menggunakan strategi promosi seadanya, malah hanya mengandalkan rekomendasi dari pelanggan setianya (word of mouth)

                Nah, apa hubungannya dengan memerangi pembajakan film?beliau sendiri mengutarakan bahwa pembajakan hanya bisa hapus apabila harga sekeping piringan film berharga tal lebih dari Rp7-10.000,- dengan begitu konsumen akan berpikir untuk mendapatkan suatu film dengan kualitas baik dan harga terjangkau saja saya bisa, kenapa saya harus membeli yang bajakan?!. Kemudian, mas Dian sempat bercerita bahwa asosiasi pengusaha rental video se-jogja pernah berdiri namun seiring berjalannya waktu, perbedaan prinsip bisnis dan pribadi membuat paguyuban ini bubar. Satu ketika saya sempat berpikir, kalau saja regulasi dan himbauan dari pemerintah dan aparat hukum saja mental ketika menghadapi pembajakan, kira-kira bagaimana ya kalau himbauan ini dimulai dari komunitas. Ide ini muncul saat saya melihat sebuah baliho besar dari Apkomindo Jogja (lupa euy kepanjangannya) yang tegas berkata “ Jangan beli software bajakan, agar terpercaya belilah di toko yang terasosiasi dengan Apkomindo”. Jadi kalau bisa berpendapat, rental video ini kan usaha kecil menengah (yah jangan dulu dibandingin dengan rental franchise seperti ezy dan ultra disc) dan berawal dari idealism seorang mas Dian, semestinya film bisa memberikan edukasi tersendiri bagi penontonnya. Nah kenapa pemerintah tidak memulainya dengan pemberian insentif pembelian keping cd original dan sekaligus mengatur regulasi yang disepakati asosiasi rental video; regulasinya bisa berupa konten film yang sebaiknya ada di rental video(independen, klasik atau documenter). Mungkin lingkup asosiasi ini bisa dimulai dari tingkat provinsi seperti jogja, apalagi saya berani bilang kalau usaha rental video (selain produk franchise yang pasti menggunakan cd original)  tidaklah semarak factory outlet ataupun produk makanan, jadi akan mudah untuk melakukan pengawasannya. Kalau saja di sebuah kota terdapat 2-3 komunitas pecinta film tentunya hal ini bisa mendukung, komunitas pecinta filmlah yang menjadi tim marketing yang kemudian mengadakan kegiatan nonton bareng di masyarakat sehingga masyarakat dapat memiliki wawasan akan sebuah film dan mendapatkan hal positif dari film tersebut. Menarik, kalau saja komunitas video rental dihidupkan kembali bukan tak mungkin jalan untuk merintis gerakan anti pembajakan dapat tercapai

Dibalik sifat “berlebihan” nya menjaga suatu barang.. Senin, Jun 20 2011 

Pernahkah anda merasa sangat konservatif terhadap barang-barang, artinya anda akan menjaga barang itu walaupun bagi orang lain, barang tersebut sudah tidak berharga. Tentunya keanehan ini bisa membantu kita menebak tipe seperti apa orang ini koleris, melankolis, sanguinis atau plegmatis. saya termasuk salah satu di antaranya, banyak teman termasuk orang tua saya merasa heran mengapa saya mempertahankan benda yang kelihatanya ke-optimalannya sudah habis, ya kacamata yang diplester karena patah, sepatu yang mesti dijanit berulang kali dan yang baru2 ini handphone yang biaya servisnya terhitung besar untuk handphone yg bertahan selama 3 tahun. Akan tetapi saya mempunyai alasan untuk mempertahankan itu semua..yahh taruhlah kebanyakan orang yang membaca hal ini merasa lucu atau mungkin dalam hati mengumpat, “bego banget ini orang, barang rusak masih ditahan-tahan” atau yang mudah berprasangka akan berkata, “sudah pasti orang ini kikir, bawa mobil tapi kaca matanya plesteran”.

Awalnya sederhana, dari didikan orang tua. Semasa kecil, walaupun lahir dalam keluarga dengan ekonomi menengah ke atas saya tidak pernah merasa mudah untuk mendapatkan segala sesuatu, layaknya seorang anak pasti tidak lepas dari keinginan meminta ini dan itu. taruhlah ketika saya ingin meminta dibelikan kostum bola untuk pertama kalinya, saat itu saya kelas 1 SMP. Dan apa yang orang tua katakan adalah, “kamu harus giat belajar dalam beberapa hari ini, baru kami belikan”. Dalam beberapa hari kemudian saya mendapatkan simpati mereka  dengan belajar malam (yang sampai saat ini saya mengaku tidak pernah belajar/mengulang pelajaran setiap pulang sekolah) dan sebuah kostum Roberto Baggio-Inter Milan berhasil saya dapatkan. Metode stick and carrot yang orang tua saya terapkan ini terus berlanjut sambil terus ditanamkan bahwa saya harus menjaga setiap barang yang telah dibelikan karena dengan cara itu saya dinilai menghargai kerja keras orang tua.

Entah apakah untuk saat sekarang sifat saya yang dahulu orang tua tanamkan telah berubah menjadi sesuatu yang berlebihan atau cenderung dinilai orang kikir, yang jelas saya merasa bahwa saya menghargai setiap pemberian orang terkhusus dalam hal ini adalah orang tua saya. Dan bisa saja mereka akan tertawa geli sembari menggelengkan kepala seandainya mereka mengetahui apa alasan saya mempertahankan sebuah benda, yang jelas seorang idealis akan menjaga prinsip apa yang dinilainya berharga walaupun orang menilai telah usang

Sebuah Drama Bertema Deradikalisasi Minggu, Mei 1 2011 

Sungguh suatu drama yang panjang ketika kita menyaksikan tayangan yang bermula dari pengusutan pelaku bom bunuh diri Cirebon pada bulan April kemudian berlanjut pada penemuan bom di Gereja Christ Catedral yang berbarengan dengan penangkapan 20 tersangka teroris sampai akhirnya pada hari ini, kita disuguhi berita mengenai penipuan yang dilakukan oleh gerakan NII KW9. Tak kalah dengan drama politik dan kasus korupsi yang tak pernah lepas dari perhatian kita, drama tentang terorisme oleh media telah dibentuk sebagai drama yang harus disaksikan, seperti tak ada pilihan. Banyak pihak beranggapan bahwa berita mengenai NII dan penahanan sejumlah tersangka terorisme sebagai upaya pemerintah untuk mengesahkan RUU Intelijen yang banyak ditentang oleh sejumlah aktivis HAM sebagai upaya memata-matai dan tidak menutup kemungkinan untuk mengintimidasi kegiatan yang diduga merencakan kegiatan terorisme. Tema pemerintah untuk melakukan deradikalisasi dengan melihat kenyataan yang ada, seolah memberikan gambaran bahwa pemerintah gagal melakukan deradikalisasi pada kelompok atau mantan teroris. Dalam hati saya terlebih dahulu bertanya, siapa saja sih yang merupakan subyek bagi pemerintah untuk menggiatkan program deradikalisasi ini, apakah ormas islam radikal seperti FPI, FUI dan HTI termasuk?dan sebenarnya apa saja program deradikalisasi yang di gagas oleh pemerintah?ini seperti sebuah informasi yang terpotong, saya pun berusaha mengetahui dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Apa yang saya tangkap selama ini mengenai deradikalisasi oleh pemerintah adalah sosialisasi mengenai nilai Pancasila dan tentunya konseling mengenai keagamaan. Barangkali saya salah tapi sempat saya berpikir apakah kegiatan ini juga menyasar ormas-ormas fundamentalis? tentu dalam pengertian ini deradikalisasi haruslah di definisikan ulang karena selama ini, saya selaku masyarakat awam hanya mengetahui bahwa deradikalisasi ditujukan bagi kelompok-kelompok teroris yang kemudian tertangkap. Saya selalu melihat mereka yang berjalan beriringan, membawa sebuah spanduk dengan gigihnya menawarkan sebuah ide mengganti ideologi Pancasila dengan Syariat Islam dan Khilafah. Apakah ini bukan termasuk bentuk radikalisme?apakah kategori radikal hanya ditujukan bagi mereka yang secara terang-terangan rela mati demi prinsipnya?. Tulisan ini sebagai bentuk pertanyaan apakah pemerintah serius dengan deradikalisasi. Sebuah kata yang terngiang ketika kita mendengar penemuan bom, penangkapan teroris. Namun ketika ada pengrusakan tempat hiburan, penutupan tempat ibadah dengan paksaan, intimidasi, kesewenang-wenangan terhadap orang yang berbeda pendapat oleh sekelompok preman berjubah. Tidak kah mereka juga layak disebut teroris yang musti di deradikalisasikan?

Tak perlu pengesahan RUU Intelijen untuk menilai bahwa pemerintah serius dengan penanganan tindak pidana terorisme, penindakan hukum dengan tegas terhadap ormas-ormas yang secara kasat mata tergolong sebagai tindakan meneror adalah wujud keseriusan pemerintah yang sebenarnya.

Manusia Minggu Senin, Mar 21 2011 

Manusia Minggu Aku datang di hari yang sama, hanya ingin sedikit bercerita

perjalanan yang ku alami selama 6 hari. Di rumah-Mu aku serasa bisa melepas

segalanya bahkan setiap inci dosaku samar ku dengar Kau berbicara, “Aku

telah mengampunimu”. Setiap permasalahan yang ku hadapi saat itu juga

ajaib ku rasakan Kau mengangkat bebanku. Kini setelah hari berganti, ku

merasa beban yang serupa kembali datang, ia terkadang beralih dari beban

fisik menjadi beban psikis. Tak pernah ku menyangka bahwa setelah hari

minggu aku adalah sang pecundang, si pongah yang tak tahu diri.

 

Akulah si manusia minggu, aku memisahkan waktu untuk-Mu dan waktu

untuk kerjaanku. Tak peduli apa yang Kau rasa, aku menjanjikanMu 1 hari

untuk bertemu, selebihnya..aku sibuk, aku tak mau diganggu.

Akulah si manusia minggu; terlihat kuat namun rapuh, terkesan kokoh tapi

nyatanya mudah untuk merengek. Tak pernah ku bayangkan

 

Ps: ku tinggalkan surat ini agar Kau menemuiku, situasi ini terlalu membingungkan 😦

FRATERNITY: Sebuah Nama tak Sengaja Jumat, Mar 18 2011 

Aku mengusulkan nama FRATERNITY pada kelompok ini bukan tanpa maksud, tadinya ku bermaksud “menegur” seseorang karena kepribadiannya yang ceplas-ceplos, cenderung bossy dan sering membuat orang salah mengerti dengan apa yang dia katakan. Kata Fraternity awalnya pun tak sengaja ku temukan saat kami sedang mengadakan persiapan debat, aku memilih kata ini dengan harapan bahwa kami bisa benar-benar ber-fraternity, saling memahami satu sama lain. Namun dalam kenyataannya hal ini sulit untuk diwujudkan. Aku semakin menegaskan arti fraternity ke dalam akronim kata (FR)eedom, (A)rt, (TE)chnique, acountabil(ITY), aku sengaja menyusun akronim ini sesuai dengan kemampuan teman-temanku, aku memilih kata freedom untuk menggambarkan diriku tak pernah ingin terlalu di-push untuk melakukan sesuatu, karena kata ini hendak menyampaikan pesan pada seseorang itu yang berusaha terus mengulang kata “sudah paham?” padaku saat ku berusaha mencerna segala angka-angka konyol itu. Ketidaknyamanan ini yang hampir menjadikanku sebagai manusia pasif, terus terkungkung pada pertemuan yang tegang dan komunikasi yang buruk. Dan hari ini adalah puncaknya, salah satu temanku meluapkan ketidaksenangan sikap kawanku yang lain karena ia cenderung memikirkan dirinya sendiri, dan ia meluapkan di saat yang tepat. Kejadian ini yang membuatku terus berpikir, sekaligus menegaskan apa yang ada selama ini ku alami, pemimpin yang baik bukanlah dinilai dari sepintar apa ia dalam bidangnya, tapi yang sesungguhnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomukasi. Soekarno, Marthin Luther King Jr; mereka adalah pemimpin yang tak hanya pintar berbicara tapi juga mampu melakukan komunikasi 2 arah, berusaha mendapatkan simpati dengan setiap orang yang ditemuinya. Hari ini menjadi sebuah pelajaran, mungkin yang ketiga kalinya, kelompok ini butuh pemimpin dan komunikasi. Aku berharap, sisa 1 tahun ini bisa kami manfaatkan benar membentuk kelompok ini sebagai keluarga, dan ruang 3×4 itu sebagai rumah, bukan penjara ber-AC;pengap dan kaku

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »